MANUSIA GEROBAK

MANUSIA GEROBAK

 

Membaca judul buku kecil “Manusi Gerobak”, selintas saya menerka ini kehidupan orang yang hidup dalam gerobak, fenomena sosial yang dekat dengan keseharian metropolitan namun jauh dari menikmati hingar bingar kehidupan.  Saya dapat menerka ini, karena sebelumnya saya baca tulisan manusia gerobak sebagai contoh deskriptif dalam buku “Penelitian Kualitatif Ilmu Pendidikan social”  tulisan Nusa Putra. Dalam cerita itu menggabarkan secara deskriptif apa itu manusia gerobak. Ternyata saya masih penasaran dengan manusia gerobak, jadi ketika lihat buku kecil Manusia Gerobak langsung penasaran ingin baca.

Saat membaca buku Manusia Gerobak kumpulan puisi esai tulisan Elza Peldi Taher, saya justru dihantarkan kepada sebuah keresahan yang berlalu, mengulang kesedihan dan tangis yang dicampur  marah kepada penguasa dan rakusa yang hidup semena-mena.

Ini bukan puisi khayal, tetapi kisah nyata, yang dipaparkan indah lewat imajinasi penulis. Waktu saya membaca kisah ini disebuah surat kabar, rasanya tidak tahan  menahan air mata, sebagai bagian dari kehidupan tidak mampu berbuat apa-apa.

 Kini cerita itu diabadikan lewat bait syair Elza, bersama kisah-kisah orang susah yang memilukan. Saya membaca tulisan ini di bis APTB dapat buku ini lewat penjual buku depan kampus. Setelah mendapat tempat lesehan di pojok bis, karena semua bangku terisi. Saya larut, seolah merasakan, meneteskan air mata membaca manusia gerobak.

Sebetulnya saya kurang tertarik dengan puisi, karena seringkali tidak mengerti apa isi dan maksudnya, tetapi kali ini puisi esai begitu membuat saya terpesona.  Tidak rumit difahami, sederhana dan tetap membawa makna yang dalam bagi kehidupan.

Manusia Gerobak

Kalbu Atmo luluh lantak

Mulut membisu tidak bicara

Awan di langit berarak-arak

Langit biru alangkah indahnya

 

Pohon-pohon segar menghijau

Bunga mekar kuning dan jingga

Kalbu Atmo sangatlah kacau

Pedih jiwa tiada terhingga

 

Atmo terus ayunkan langkah

Susuri Jakarta yang ramai

Hatinya remuk kalbunya gundah

Tiada tentram tiada damai

 

Sarung kumal membungkus janazah

Tubuh mungil diam dan pasrah

Ditutup rapi, diselmpangkan menyilang

Di depan dadanya yang datar dan kerontang

 

Lengan satunya mengapit jemari mungil

Anak lelakinya yang berbaju lusuh

Tertatih mengejar dengan langkah kecil

Mengiringi bapaknya tanpa mengaduh

 

Itu bagian pertama puisi esai yang menceritakan perasaan dan kebingungan Atmo, putri bungsu mungilnya meninggal. Keluarga yang hidup di gerobak di tengah keganasan kota Jakarta, jangankan untuk mengurusi mati, untuk hidup dan sesuap nasi pun sulit. Itulah kebingungan Atmo untuk memakamkan putrinya.

Ketika hendak membawa ke kampung halaman menaiki kereta ekonomi,  diketahui membawa tubuh mungil dan kaku bukan dibantu malah dipanggilkan polisi dan mengikuti proses pemeriksaan dan otopsi. Ketika selesai, jangankan untuk sewa ambulan untuk naik sekedar bajaj pun tidak ada ongkos. Perih nian kemiskinan itu.

Akhirnya ia kembali ke rumah yang pernah dikontraknya untuk meminta bantuan.  tetaplah orang-orang susah, miskin yang memiliki hati tulus dan peduli yang membantu  memakamkan putrinya.

Petang datang

Malam menjelang

Tak mungkin lagi

Atmo berjalan jauh

Mengubur putrinya

Di kampong halamannya

Nan jauh di sana

 

Jasad anaknya mesti dikubur segera

Dalam bajaj Atmo memeluk jasad putrinya

Sambil menggandeng lengan anak lelakinya

Ia kembali ke rumah yang pernah dikontraknya

 

Kepada Ibu Sri, Atmo bercerita

Membawa jasad putrinya ke mana-mana

Ibu Sri tak tahan mengurai air mata

 

Cerita segera tersebar ke tetangga

Sesama orang miskin dan papa

Terguncang hati mereka

Mendengar kisah orang tua

Membawa jasad putrinya kemana-mana

Hari hampir malam

Jenazah dikebumikan

Di liang makam

Dikumandangkan adzan

Adzan bergema di kuburan

Indah dan syahdu

Mendengar adzan dan iqomah

Mata Atmo berair membasah

Mayat kecil berkain kafan ditutup papan

Tanah-tanah berhamburan

Membentuk sebuah gundukan

Bermahkota nisan:

“Mawar inti Atmo”

Bertaburkan bunga

Mewangi di dada

 

Membaca dan menuliskan kembali puisi ini pun saya merasakan bagaimana kebersamaan orang miskin papa, dan kepedulian mereka yang kekurangan tetapi tetap bersahaja. Semoga mereka bahagia.

Kehidupn sepertinya berlapis-lapis dan setiap lapis tidak  saling peduli dan terkait. Yang di atas dan bertahta, bergelimangan harta, dan yang dikolong berlumur kehinaan dan nestapa. Sungguh jika saja mereka di atas sana tidak rakus berhata, si papa tidak pernah tersiksa dengan nestapa.

Meski begitu saya percaya masih banyak orang yang kaya berharta, memperhatikan dan mengeluarkan hak-hak si fakir dan miskin. Baik yang meminta dan tidak meminta mereka bisa merasa kebutuhan mereka.

Harta dan Kekayaan Adalah Ujian Hidup. Semoga Lulus.

 

 

 

 

                                   

Advertisements

Membangkitkan Nurani

Pengalaman sebagai seorang pendidik, kadang dikecohkan dengan ulah didikan yang kurang bertanggung jawab.

ketika diminta untuk mengerjakan tugas take home.. tidak sedikit kreativitas muncul. tapi sayang kreativitas itu justru pada sisi yang tidak tepat. tidak membuat makna tugas yang sebenarnya, yang dilakukan hanya mengubah huruf, size, mengacak urutan. bahkan yang ada yang paling pasif hanya mengkopi dan menutup nama si pemiliki asli diganti dengan namanya sendiri.

Sulit memberikan toleransi dengan yang seperti ini…

Padahal seberapapun karya yang dibuat akan diapresiasi tinggi..

melatih diri dan membina karakter tanggung jawab semestinya sudah melekat pada diri orang dewasa. apalagi mereka adalah sebagai calon pendidik pula. bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan anak didiknya kelak jika sesuatu yang baik tidak tercermin dalam diri seorang pendidik.

sekarang sudah trendnya pedidikan karakter. p

spirit

semangat adalah setengah modal sukses… mengeluh adalah tanda kegagalan dan kematian. so seberat apapun masih ada sisi untuk bisa bersemangat…. karena nyawa masih ada.