Mengenal Ciri-Ciri Orang Besar

Mengenal Ciri-Ciri Orang Besar

Membaca buku tentang ‘ayah’ yang mengkisahkan tentang bagaimana Hamka melalui penuturan seorang anaknya Irfan Hamka. Hamka seorang Ulama Besar dengan kesungguhan, konsistensi di jalan dakwah yang juga seorang Sastrawan. 

Kebesaran nama Hamka tidaklah serta merta membuatnya demikian. Terdapat banyak peristiwa dalam perjalanan  hidup yang membentuk dan menerpa pribdi sehingga orang yang dulu  bukan apa-apa menjadi apa-apa, from nothing to something, from zero to hero.

Sekaliber Hamka, siapa yang tidak kenal, dengan karya sastra dan buku yang ditulis tetap menggugah. Kegiatan dakwah yang tidak henti serta dunia politisi yang dijalani dengan konsisten dakwah, bukan sesuatu yang mudah. Tindakan yang kala itu dianggap subversif, jeruji tahanan adalah hadiahnya.

Menarik bagi saya mecermati perjalanan orang besar. Tetapi lebih menarik melihat bagaimana orang besar bertindak. Apa saja yang dilakukan dan sikap apa yang selalu dipegangnya. Bersiap-siaplah menjadi orang besar dengan membaca ciri-ciri ini. Check it out:  

1. Derita masa lalu menjadi sesuat yang bermakna

Derita tidak selalu berakibat buruk,  bagi yang merasakan penderitaan, derita adalah titik kebangkitan jiwa. Jika disikapi positif apapun yang menimpa diri akan menjadikan pribadi yang lebih berkualitas. Berapa banyak yang mendekam dibalik jeruji besi, justru dari sanalah  karya besar dan pemikiran besar lahir. Mendekan di penjara bukan tanpa sebab, biasanya akibat kesombongan penguasa dan  diri teraniaya.

Banyak yang dikorbankan ketika harus berpisah dengan keluarga, dan kehidupan diluar sana. Tetapi menyesali dan meratapi  itu semua bukan tipe orang besar. Memaknai keberadaannya di penjara justru membuka kesempatan dengan berbuat hal baru yang bermakna.

Hamka bisa menyelesaikan tafsir al Azhar 30 juz ketika berada dalam penjara 2 tahun 4 bulan. Viktor Frankl menuliskan buku Man’s Search for Meaning ketika di penjara dalam penganiayaan Nazi. Frankl mencatat pengalamannya sebagai seorang tahanan kamp konsentrasi dan menguraikan metode psikoterapisnya dalam upaya mencari makna di  segala bentuk keberadaan, bahkan yang paling kelam sekalipun. Inilah yang kemudian dikenal dengan logoterapi.

Buya Mandela (lihat tulisan Nusa Putra) dengan masa tahanan 27 tahun, mengantarkan kepada pribadi yang dikenal dan mendapatkan banyak berkah hingga akhir hidup karena memperjuangkan hak-hak hidup manusia dengan damai. 

 

Dalam buku “Ayah,” Hamka sendiri, mengenang banyak hal yang tidak mengenakkan hati, ketika masa kecil dan mudanya, seperti yang dituturkan  di hal. 238 berikut ini.

1) orangtua bercerai saat Hamka memerlukan kasih sayang,  2)  ejekan buruk rupa karena penykit cacar telah merubah wajah yang dulu rupawan, 3)  sekolah agama dan sekolah desa cenderung dilecehkan masyarakat, 4) sering diejek karena kemampuan bahasa Arab yang lemah, dan 5) penolakan menjadi guru di sekolah Muhammadiyah karena tidak memiliki ijazah diploma padahal ayahnya sendiri adalah pendiri sekolah Muhammadiyah. Dari rentetan kejadian itu, tidak membuat patah semangat. Justru ini menjadi kekuatan diri untuk mengubahnya dengan semangat belajar dimanapun dan sampai kapanpun. Lahirlah banyak karya melalui tangan dan kesungguhan Hamka.

 

2. Tekad kuat untuk mengubah

Kekuatan dan tekad positif itu menuntut dan mengubah perih menjadi senyum lirih. Seburuk apapun penderitaan jika tidak ada tekad dan tergerak untuk memperbaiki mustahil lahir menjadi besar. Bisa saja keadaan ini malah membawa menjadi gelandangan, pengemis, atau preman.

Ketika banyak hal yang meberikan label lemah dan kekurangan diri, sebenarnya itu adalah aset dalam mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan diri. Meski tidak sepenuhnya benar, dan tidak perlu juga membuktikan akan salahnya yang dikatakan orang lain. Apa yang diperbuat semata karena  memuliakan diri dan kebahagiaan diri. Tekad adalah motor perubahan diri.

 

3. Konsisten dengan apa yang telah diperbuat

Memulai lebih mudah ketimbang menjaga keberlangsungan. Tidak salah kalau dikatakan amalan yang baik adalah yang terus dikerjakan meski sedikit. Artinya bukan banyaknya yang diperbuat setelah itu tidak berbuat lagi. Tetapi keberlangsuangan perbuatan baik itu terus menerus dilakukan.

Banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan, tetapi jika dilakukan secara sporadis, tidak banyak bekas dan membentuk diri. Paling bisa hanya mejadi kesan dan kenangan. Hidup adalah kini dan nanti. Sebagus apapun dulu yang diperbuat, jika kini tidak bagus lagi tentu menyedihkan. Sebaliknya seburuk apapun dulu, sekarang lebih baik, masih mendinglah dari yang tadi. Tentu yang terbaik dahulu dan kini tetap dalam kebaikan.

Bahasa agama mengatakan istiqomah. Pesan istiqomah adalah pesan kedua setalah menetapkan kepada perbuatan baik. Bersabarlah dan tetaplah dalam kesabaran. Bersyukurlah dan tetaplah dalam syukur. Konsistensi mengantarkan kepada tujuan.

 

3. Totalitas, kaffah.

Separuh, setengah pasti tidak full dan masih kurang setengah atau separuh lagi tentunya. Bekerja setengah –setengah akhirnya malah tidak enak dan tidak sampai pada apa yang dimaksud. Karena energi, pikiran dan perasaan terbagi setengah di sini dan setengah di sana. Ujungnya malah tidak dapat apa-apa.

Dalam mengerjakan dan menempuh sebuah tujuan, totalitas adalah perlengkapan yang tidak boleh tertingal. Tanggalkan semua yang tidak mendukung tujuan. Bekerja sepenuh hati pada apa yang menjadi tujuan hidup dengan mantap. 

Totalitas artinya mencurahkan segenap rasa dan fikir pada satu hal. Fokus dan penuh perhatian.

 

4. Masa kecil yang Bengal

Bengal tidak selalu menjadi ciri orang besar, tetapi kadang saya melihat ada kemungkinan bengal dari perilaku orang besar. Karena keberanian dalam bertindak melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain sangatlah mungkin. Bengal sebenarnya ‘berani’. Jika berani melakukan yang kebanyakan orang tidak berani melakukan, si ‘bengal’ inilah yang maju.

 Orang besar adalah bukan orang kebanyakan pada umumnya. Orang besar bukan berarti mesti terkenal. Karena orang besar tidak bercita-cita untuk menjadi terkenal.

Orang besar memiliki jiwa besar, dan dikenal Tuhan lebih dahulu.    

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s