Saat Mampu Menahan untuk Berbuat Semaunya #Bahagia 3

Saat Mampu Menahan untuk Berbuat Semaunya #Bahagia 3.

Advertisements

Cara Mengubah Sedih menjadi Bahagia

Kehidupan masa lalu boleh kelam, tetapi hidup ke depan tetaplah masih cerah dan bersinar. Siapapun memiliki masa lalu dengan berbagai kisah. Kisah yang terlalu menyedihkan dan membuat hilang separuh kehidupan dan terbawa dalam hidup ke depan adalah kerugian dua kali. Sudah menderita ditambah dengan membawa derita dalam hidup yang akan dilewati.

Kehilangan, kegagalan dan kekecewaan masa lalu tidak sepatutnya menjadi bayang di masa yang akan datang. Sedih memang, namun tidak perlu larut dan mematisurikan kehidupan. Ditinggalkan, dikhianati dan dicampakkan tentu menderita tetapi penderitaan itu nikmati sebgai bagian yang membawa bahagia di hari depan.

Mengubah derita menjadi bahagia, mengubah sempit menjadi kesempatan berharga, mengubah tangis menjadi tawa, mengubah duka menjadi suka cita tentu tidak semudah membalikan goreng tempe di wajan.

Butuh kemauan, kekuatan, tekad dan kesabaran dalam melakukan perubahan. Sebagai pangkal awal dari kemauan merubah adalah mengubah mindset, pikiran, sikap yang diikuti dengan perilaku yang mendukung.

Reset Pikiran

Bersyukurlah manusia dikaruniai akal, pikiran dan kecerdasan. Siapa yang mau hidup menderita? Siapa yang mau kehilangan yang dicintai dalam hidup? Tentu akal, pikiran akan menjawab tidak mau. Mengapa menyimpan hidup yang derita?  Apakah tidak ingin hidup bahagia? Bagaimana agar bisa bahagia? Tanyakan dalam pikiran dan temukan jawaban yang membuat nyaman, tenang dan lakukan.

Meski ada tangis saat teringat yang telah lalu, itu hal biasa karena kita memang bukan robot yang berjalan dengan perintah tanpa rasa. Perasaan memperhalus dan mempercantik sikap yang kita miliki.

Penuhi  dan arahkan semua pikiran pada hal-hal yang membuat kita memilih bahagia dan pikiran yang positif. Jika hari ini dikecewakan, jika hari ini disedihkan percayalah bahwa kita sedang dibawa untuk kehidupan yang baik di masa depan.

Justru saat kita sedih, itu adalah pelajaran untuk perbaikan diri. Karena Allah telah menunjukkan apa akibat dari apa yang telah dilakukan. Segala sesuatu yang baik datang dari Allah, dan segala yang buruk datang dari diri sendiri. Jika keburukan itu menimpa, sesungguhnya itu karena ulah dan perilaku diri sendiri. Tidak perlu menyalahkan orang lain jka dikecewakan, tidak sepantasnya membenci jika disedihkan. Berbahagialah Tuhan telah menunjukkan ada yang salah yang telah kita lakukan. Mohonlah ampun dan mintalah petunjuk. Hidup tidak akan pernah sanggup berdiri tanpa pertolonganNya.

Mengemas duka menajdi senyum bahagia, butuh jalan pajang dan kesabaran. Percayalah setidaknya jika dilewati dengan baik, kita akan temukan hal-hal baik yang tertanam dalam diri. Jika menanam yang baik, kelak buah kebaikan akan dinikmati

Lakukan

Pikiran sudah direset dan diprogram dengan baik belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan perilaku yang mendukung. Lakukan hal-hal yang mampu menghapus sedih. Terdiam dan kebayakan berpikir mengundang iblis merasuk pikiran dan membisikan hal yang tidak baik. Kala sedih datang bergeraklah berwudhu. Masih tetap sedih dan menangis lakukan shalat, urailah sedih dan tangis dalam shalat, berbicara kepada yang Maha Mendengar dan Maha Kasih Sayang. Biarlah saat ini shalat penuh dan basah dengan air mata.  Datangkan pikiran positif, kekuatan dalam diri dan tetaplah bermohon untuk kebaikan kini dan nanti.

Jika sudah tenang lakukan segera hal lain yang menjadi kewajiban dan tunaikan tugas. Dekatkan diri dengan mengingat Allah, berzikir dan membaca Quran adalah obat bagi ketenangan diri.  Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Kadang ada hal-hal yang mengingatkan yang telah lalu dan membuat sedih. Sebanarnya tidak boleh dihindari, harus tetap dihadapi dan disikapi positif. Namun tidak perlu ditantang untuk menguji kesedihan diri. Ganti hal-hal yang tidak perlu dan tidak mendukung dengan aktivitas lain yang lebih baik.

Meski sedih kadang hadir, air mata kadang menetes, percayalah perlahan berkurang dan mekanisme diri akan menghapus dan kembali tenang. Lanjutkan dengan amal perbuatan yang lainnya tetap produktif  dan terus berbuat baik. Butuh air hujan dan cahaya matahari untuk membuat pelangi nan indah. Butuh konsistensi dan kesabaran dalam beramal baik untuk hari depan yang baik.

Semoga Allah melindungi dan memberkahi kita

 

 

Mendapat kutuk atau Berkah Ibu Kuncinya.

santi lisnawati

Mendapat kutuk atau Berkah Ibu Kuncinya.

 

Ibu dan anak memiliki ikatan emosional yang cukup panjang. Setidaknya selama masa kahamilan atau  pranatal anak berada dalam rahim ibu. Hanya ibu yang memiliki rahim, rahim artinya kasih sayang, tentu kasih sayang yang diberikan ibu tidak akan dapat tergantikan dengan yang lainnya. Dalam desain yang Maha Kuasa, anak tumbuh berkembang dalam rahim yang kokoh, pasokan makanan dari apa yang ibu makan tersalurkan melalu plasenta yang sampai kepada anak.  Bahkan bukan saja makanan rasa bahagia, ketenangan dan kegembiraan terdeteksi turut dapat dirasakan anak.

 

Hal-hal yang bersifat psikologis yang dialami ibu akan berpengaruh kepada anak. Ibu yang cemas dan gelisah akan mempengaruhi janin dan perkembangan fungsi psikologisnya. Keadaan, susana hati dan nutrisi ibu mempengaruhi masa pembentukan dan masa pertumbuhan saat anak dalam kandungan.

 

Kelekatan ibu dan anak terus terjalin kuat, masa penyusuan yang panjang (dua tahun) adalah masa kelekatan dan hubungan emosional terjalin…

View original post 416 more words

Jaga hati dan Ingat Mati, Sekolah Jiwa Kali Ini

santi lisnawati

Jaga hati dan Ingat Mati, Sekolah Jiwa Kali Ini

 

Perjalanan hidup manusia bisa dilihat sebagai garis  fase yang tersekat, namun juga bisa merupakan sebuah garis kontinum. Waktu yang dibuat dilalui sebagai  tanda akan kehadiran dan keberadaanya. Waktu sesungguhnya terus berjalan manusia memberi makna kepada waktu akan kehadiran dan keberadaanya. Isi kepala dan pikiran manusia tidak pernah sama maka penentuan waktu menjadi bervariasi. Itulah keberagaman dan kebebasan berekspresi dengan menandai dan memaknai waktu.

Seiring waktu ada banyak berubah dalam diri manusia, sejak manusia lahir dan terus melewati lorong waktu, mengubah fisik manusia dari yang tidak berdaya menjadi manusia dewasa, tua dan bahkan menjadi manusia yang tidak berdaya kembali.

Waktu mengantarkan kepada fase akhir dalam kehidupan di dunia, namun sesungguhnya waktu belumlah berakhir, ada perjalanan lanjutan yang dengan keyakinan kuat bahwa kehidupan setelah di dunia ini terdapat kehidupan yang sempurna. Segala perbuatan baik dan buruk terbalas dengan sempurna.

Ada unsur dalam…

View original post 699 more words

Malaikat Pun Bertanya, Siapakah Peniup Trompet Itu?

santi lisnawati

Malaikat Pun Bertanya, Siapakah Peniup Trompet Itu?

 

Dalam keheningan dan kesunyian malam para malaikat tengah bertasbih memuji Tuhan. Namun mendekati jam 12 malam, para malaikat dikagetkan dengan apa yang terjadi di bumi. Seolah-olah terjadi susul-menyusul ledakan dan  lompatan cahaya yang di langit yang kejar-mengejar. Lebih dikagetkan lagi dengan bunyi terompet yang terus menerus. Sampai berpikir salah satu malaikat mengenai tugas temannya yang meniup sangkakala, apakah tugas malaiat yang meniup sangkakala sudah dimulai?

 

Biasanya suara di bumi ketika hening menuju malam, banyak yang menyampaikan doa dengan tangisan dan tiada henti. Doa  yang tercatat terfavorit saat ini yaitu, pertama para caleg yang ingin lolos dalam pemilihan 2014. Malaikat pun mulai enggan mencatat doa-doa mereka, karena mereka lupa dengan janjinya saat setelah kursi yang mereka inginkan didapat.

 

Doa terfavorit kedua adalah doa para koruptor yang ingin dibebaskan dari jeratan hukum tanpa merasa bersalah dan menyesal. Malaikat pun sudah mulai bosan…

View original post 234 more words

Mengenal Ciri-Ciri Orang Besar

Mengenal Ciri-Ciri Orang Besar

Membaca buku tentang ‘ayah’ yang mengkisahkan tentang bagaimana Hamka melalui penuturan seorang anaknya Irfan Hamka. Hamka seorang Ulama Besar dengan kesungguhan, konsistensi di jalan dakwah yang juga seorang Sastrawan. 

Kebesaran nama Hamka tidaklah serta merta membuatnya demikian. Terdapat banyak peristiwa dalam perjalanan  hidup yang membentuk dan menerpa pribdi sehingga orang yang dulu  bukan apa-apa menjadi apa-apa, from nothing to something, from zero to hero.

Sekaliber Hamka, siapa yang tidak kenal, dengan karya sastra dan buku yang ditulis tetap menggugah. Kegiatan dakwah yang tidak henti serta dunia politisi yang dijalani dengan konsisten dakwah, bukan sesuatu yang mudah. Tindakan yang kala itu dianggap subversif, jeruji tahanan adalah hadiahnya.

Menarik bagi saya mecermati perjalanan orang besar. Tetapi lebih menarik melihat bagaimana orang besar bertindak. Apa saja yang dilakukan dan sikap apa yang selalu dipegangnya. Bersiap-siaplah menjadi orang besar dengan membaca ciri-ciri ini. Check it out:  

1. Derita masa lalu menjadi sesuat yang bermakna

Derita tidak selalu berakibat buruk,  bagi yang merasakan penderitaan, derita adalah titik kebangkitan jiwa. Jika disikapi positif apapun yang menimpa diri akan menjadikan pribadi yang lebih berkualitas. Berapa banyak yang mendekam dibalik jeruji besi, justru dari sanalah  karya besar dan pemikiran besar lahir. Mendekan di penjara bukan tanpa sebab, biasanya akibat kesombongan penguasa dan  diri teraniaya.

Banyak yang dikorbankan ketika harus berpisah dengan keluarga, dan kehidupan diluar sana. Tetapi menyesali dan meratapi  itu semua bukan tipe orang besar. Memaknai keberadaannya di penjara justru membuka kesempatan dengan berbuat hal baru yang bermakna.

Hamka bisa menyelesaikan tafsir al Azhar 30 juz ketika berada dalam penjara 2 tahun 4 bulan. Viktor Frankl menuliskan buku Man’s Search for Meaning ketika di penjara dalam penganiayaan Nazi. Frankl mencatat pengalamannya sebagai seorang tahanan kamp konsentrasi dan menguraikan metode psikoterapisnya dalam upaya mencari makna di  segala bentuk keberadaan, bahkan yang paling kelam sekalipun. Inilah yang kemudian dikenal dengan logoterapi.

Buya Mandela (lihat tulisan Nusa Putra) dengan masa tahanan 27 tahun, mengantarkan kepada pribadi yang dikenal dan mendapatkan banyak berkah hingga akhir hidup karena memperjuangkan hak-hak hidup manusia dengan damai. 

 

Dalam buku “Ayah,” Hamka sendiri, mengenang banyak hal yang tidak mengenakkan hati, ketika masa kecil dan mudanya, seperti yang dituturkan  di hal. 238 berikut ini.

1) orangtua bercerai saat Hamka memerlukan kasih sayang,  2)  ejekan buruk rupa karena penykit cacar telah merubah wajah yang dulu rupawan, 3)  sekolah agama dan sekolah desa cenderung dilecehkan masyarakat, 4) sering diejek karena kemampuan bahasa Arab yang lemah, dan 5) penolakan menjadi guru di sekolah Muhammadiyah karena tidak memiliki ijazah diploma padahal ayahnya sendiri adalah pendiri sekolah Muhammadiyah. Dari rentetan kejadian itu, tidak membuat patah semangat. Justru ini menjadi kekuatan diri untuk mengubahnya dengan semangat belajar dimanapun dan sampai kapanpun. Lahirlah banyak karya melalui tangan dan kesungguhan Hamka.

 

2. Tekad kuat untuk mengubah

Kekuatan dan tekad positif itu menuntut dan mengubah perih menjadi senyum lirih. Seburuk apapun penderitaan jika tidak ada tekad dan tergerak untuk memperbaiki mustahil lahir menjadi besar. Bisa saja keadaan ini malah membawa menjadi gelandangan, pengemis, atau preman.

Ketika banyak hal yang meberikan label lemah dan kekurangan diri, sebenarnya itu adalah aset dalam mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan diri. Meski tidak sepenuhnya benar, dan tidak perlu juga membuktikan akan salahnya yang dikatakan orang lain. Apa yang diperbuat semata karena  memuliakan diri dan kebahagiaan diri. Tekad adalah motor perubahan diri.

 

3. Konsisten dengan apa yang telah diperbuat

Memulai lebih mudah ketimbang menjaga keberlangsungan. Tidak salah kalau dikatakan amalan yang baik adalah yang terus dikerjakan meski sedikit. Artinya bukan banyaknya yang diperbuat setelah itu tidak berbuat lagi. Tetapi keberlangsuangan perbuatan baik itu terus menerus dilakukan.

Banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan, tetapi jika dilakukan secara sporadis, tidak banyak bekas dan membentuk diri. Paling bisa hanya mejadi kesan dan kenangan. Hidup adalah kini dan nanti. Sebagus apapun dulu yang diperbuat, jika kini tidak bagus lagi tentu menyedihkan. Sebaliknya seburuk apapun dulu, sekarang lebih baik, masih mendinglah dari yang tadi. Tentu yang terbaik dahulu dan kini tetap dalam kebaikan.

Bahasa agama mengatakan istiqomah. Pesan istiqomah adalah pesan kedua setalah menetapkan kepada perbuatan baik. Bersabarlah dan tetaplah dalam kesabaran. Bersyukurlah dan tetaplah dalam syukur. Konsistensi mengantarkan kepada tujuan.

 

3. Totalitas, kaffah.

Separuh, setengah pasti tidak full dan masih kurang setengah atau separuh lagi tentunya. Bekerja setengah –setengah akhirnya malah tidak enak dan tidak sampai pada apa yang dimaksud. Karena energi, pikiran dan perasaan terbagi setengah di sini dan setengah di sana. Ujungnya malah tidak dapat apa-apa.

Dalam mengerjakan dan menempuh sebuah tujuan, totalitas adalah perlengkapan yang tidak boleh tertingal. Tanggalkan semua yang tidak mendukung tujuan. Bekerja sepenuh hati pada apa yang menjadi tujuan hidup dengan mantap. 

Totalitas artinya mencurahkan segenap rasa dan fikir pada satu hal. Fokus dan penuh perhatian.

 

4. Masa kecil yang Bengal

Bengal tidak selalu menjadi ciri orang besar, tetapi kadang saya melihat ada kemungkinan bengal dari perilaku orang besar. Karena keberanian dalam bertindak melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain sangatlah mungkin. Bengal sebenarnya ‘berani’. Jika berani melakukan yang kebanyakan orang tidak berani melakukan, si ‘bengal’ inilah yang maju.

 Orang besar adalah bukan orang kebanyakan pada umumnya. Orang besar bukan berarti mesti terkenal. Karena orang besar tidak bercita-cita untuk menjadi terkenal.

Orang besar memiliki jiwa besar, dan dikenal Tuhan lebih dahulu.    

SAKIT JIWA MENGINTAI…

SAKIT JIWA MENGINTAI…         

Hidup tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, sekalipun apa yang sangat kita butuhkan. Tidaklah selalu akan sesuai. Keinginan dan kebutuhan sangat subyektif, menurut kita perlu dengan berbagai alasan logis yang dimiliki belum tentu berterima dan sependapat dengan yang lain. hidup memang unik selalu ada kejutan yang tidak kita prediksi.

Menghadapi berbagai kesulitan yang kadang tidak dimengerti, ada keyakinan diri yang selalu mengobati. Keyakinan memperkuat perjuangan hidup seseorang. Keyakinan yang benar tentunya yang menuntut pada kesabaran dalam menghadapi masalah.

Masalah dapat membuat orang menjadi lebih cerdas, tetapi bisa juga membuat tidak waras. Menghadapi masalah berat atau ringan bergantung pada kita yang menghadapi, dibuat berat bisa dibuat ringan juga mungkin. Kalau yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan beban diluar batas kemampuan kita, maka percayalah masalah yang dihadapi tidak seberapa. kalau sedang buntu hadapi masalah artinya belum dapat pembanding, coba sesekali melongok kanan dan kiri yang punya masalah, pasti merasa beruntunglah jika dibanding yang lainnya, dan seterusnya.. sampai setengah mau mati pun tetep masih beruntung. Tentu dengan formula sabar dan syukur.

Ketidakmampuan menghadapi masalah bisa sakit jiwa, merasa hanya dirinya yang paling susah. Menjauh dari Tuhan dan  menghindar dari kontak sosial, memperparah keadaan, bisa jadi mangsa iblis yang mencari teman. Tidak sedikit orang yang mengakhiri hidup dengan maksud mengakhiri masalah yang dihadapi, padahal salah besar. Justru dia bertemu dengan kehidupan yang lebih panjang, dengan awal yang buruk.

 

Penderita orang yang sakit jiwa terus meningkat.  Tingginya angka sakit jiwa dan bunuh diri adalah tanda bagaimana orang tidak mampu mengatasi permasalahan hidup. Berdasarkan data WHO 2002, 154 juta orang mengalami depresi. Penelitian WHO 2001 menunjukkan gangguan depresi menjadi penyebab ke-4 disabilitas atau ketidakmampuan seseorang menjalankan aktivitas normal sehari-hari. Pada 2020 nanti, diproyeksikan gangguan depresi akan menjadi penyebab ke-2 disabilitas setelah penyakit jantung iskemik.

 

Melihat angka bunuh diri di Indonesia juga membuat merinding. Penelitian World Health Organization (WHO) pada 2005 menunjukkan sekitar 150 orang di Indonesia bunuh diri setiap hari. Dalam setahun, jumlahnya diperkirakan mencapai 50 ribu orang. Ini data lama, bagaimana dengan data baru, yang mengungkapkan bahwa orang yang sakit jiwa di Indonesia terus meningkat. Dengan kondisi penderita sakit jiwa terus meningkat. Kehidupan materialis, hedonis dan oportunis jadi pemandangan, apa tidak lebih menyeramkan.

Menjelang pemilu, caleg yang berjibaku memperjuangkan kursi panas. Setelah usai pemilu ada tambahan deretan angka panjang penderita sakit jiwa. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010, Pemilu 2009 menyebabkan munculnya 7.376 orang sakit jiwa baru. Mereka adalah para Caleg yang gagal memenangkan Pemilu. Usai pemilu tahun 2014 kemungkinan besar penderita sakit jiwa akan mengintai para caleg. Berhati-hatilah.

 

Masalah adalah teman hidup yang membuat hidup makin hidup. Katakan pada masalah bahwa aku punya Tuhan.